Tag: bitcoin

  • Kenapa Bitcoin Lebih Unggul daripada Properti di Bali?

    Kenapa Bitcoin Lebih Unggul daripada Properti di Bali?

    Bali memang jadi magnet investasi properti berkat pesonanya sebagai destinasi wisata dunia. Tapi di balik itu, real estate di sana sering kali berhadapan dengan regulasi rumit, mafia tanah, dan likuiditas rendah. Sementara Bitcoin, meski fluktuatif, Bitcoin menawarkan transparansi, akses global, dan fleksibilitas tinggi fitur yang semakin relevan di era digital dan jadi pilihan menarik bagi investor muda yang butuh kecepatan dan kontrol penuh atas aset mereka.

    TL;DR — Bitcoin menawarkan kecepatan, transparansi, dan portabilitas yang sulit ditandingi aset fisik. Properti Bali tetap menarik, tetapi risikonya jauh lebih “berat”.

    1. Transparansi Total vs “Ruang Gelap” Pasar Tanah

    Semua transfer BTC tercatat permanen di blockchain publik, siapa pun bisa memverifikasi waktu, jumlah, dan alamat dompet. Sementara itu, transaksi lahan di Bali sering kali terjadi di balik pintu notaris, membuka peluang pemalsuan sertifikat dan “mafia tanah” yang merugikan negara Rp 5,7 triliun pada 2024.

    2. Likuiditas 24/7 vs Bulanan

    • Bitcoin diperdagangkan nonstop, volume globalnya menembus ±US$ 15 miliar per 24 jam dan nilai transaksi di Indonesia saja mencapai Rp 109,29 triliun pada Q1 2025.
    • Properti butuh listing, negosiasi, pengecekan legalitas, hingga penyerahan kunci. Bahkan di pasar “panas”, agen Property Bali menekankan penjualan tetap memakan waktu berbulan-bulan dan memerlukan dokumen rumit.

    3. Ambang Masuk: Satoshi vs Miliaran Rupiah

    Mulai Rp 100 ribu, investor bisa membeli bagian kecil dari BTC di exchange teregulasi. Bandingkan dengan harga vila di Ubud yang berkisar Rp 1,89–7,5 miliar (bahkan tipe 1 bedroom lease dipatok Rp 1,9 miliar).

    4. Portabilitas & Akses Global

    Hardware-wallet seukuran flashdisk menyimpan aset bernilai miliaran, Anda bisa membawanya melewati imigrasi tanpa deklarasi. Vila di Canggu? Mustahil dipindahkan saat zonasi berubah atau erupsi Gunung Agung terjadi.

    5. Biaya Pemeliharaan & Pajak

    Properti menuntut PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), izin bangunan, renovasi, asuransi, dan mungkin pungli birokrasi. Bitcoin cuma butuh dompet aman & koneksi internet, Bitcoin juga dikenakan pajak transaksi final di Indonesia hanya 0,1 %.

    6. Risiko Regulasi & Moratorium

    • Properti: Bali sedang menyiapkan moratorium hotel/vila di zona padat demi menahan over-development. Kebijakan seperti ini bisa menekan nilai aset fisik.
    • Bitcoin: Regulasi makin jelas, beralih dari Bappebti ke OJK dengan kerangka lisensi dan kustodian nasional, justru menambah legitimasi pasar.

    7. Kepemilikan Asing & Sengketa

    WNA tak boleh punya tanah freehold, paling jauh hak-pakai terbatas, rentan nominee agreement abu-abu dan deportasi (kasus Julian Petroulas di Canggu). Bitcoin tidak mengenal batas kewarganegaraan, jika anda memiliki kunci privatnya, maka Bitcoin menjadi milik Anda.

    8. Keamanan Fisik vs Digital

    Musibah longsor pada vila Tabanan 2024 menewaskan dua turis, mengingatkan risiko geologi dan bangunan. BTC tidak bisa ambruk tertimpa tanah, ancaman utamanya adalah kesalahan pengguna yang dapat di-minimalkan dengan cold-storage.

    9. Biaya Friksi Keluar-Masuk

    Menjual vila berarti komisi agen 3-5 %, balik nama, notaris, dan PPh final 2,5 %. Biaya kirim BTC via Lightning Network di bawah Rp 10 ribu dan tiba dalam hitungan detik bahkan lintas negara.

    10. Kelangkaan Terprogram vs Pasokan Elastis

    Supply Bitcoin dibatasi 21 juta, tidak bisa “dicetak” ulang. Pasokan lahan Bali memang terbatas pulau namun izin bangun ulang (brownfield), perubahan RT/RW, dan reklamasi pantai membuat stok fisik tetap bertambah.

    FAQ Ringkas

    PertanyaanJawaban Singkat
    Apakah harus jual properti dan all-in Bitcoin?Tidak. Diversifikasi tetap kunci, idealnya alokasi aset sesuai profil risiko.
    Volatilitas BTC bikin ngeri, kan?Manfaatkan dollar-cost averaging dan stablecoin hedge, risiko transparan & bisa diukur.
    Bagaimana beli Bitcoin paling aman?Daftar di exchange terlisensi, aktifkan 2FA, transfer ke cold wallet, lapor PPh final.

    Kesimpulan

    Bagi investor Gen Z yang mengutamakan likuiditas, transparansi, dan portabilitas, Bitcoin menawarkan rasio fleksibilitas-risiko yang lebih menarik dibanding properti Bali. Real-estate tetap punya nilai sewa, dan nilai diversifikasi, tetapi dominasi digital finance membuat porsi BTC pantas diperbesar sebagai akselerator financial freedom.

  • 4 Mindset Psikologis yang Wajib Dimiliki Sebelum Menabung Bitcoin

    4 Mindset Psikologis yang Wajib Dimiliki Sebelum Menabung Bitcoin

    Secara teknis, kita mungkin sudah paham cara membeli atau menabung Bitcoin. Tapi sering kali yang bikin gagal di tengah jalan justru bukan teknisnya, melainkan psikologinya. Untuk bisa konsisten menabung Bitcoin dalam jangka panjang, kamu butuh fondasi mental yang kuat. Nah, berikut ini empat mindset penting yang bisa jadi pegangan sebelum kamu memulai strategi menabung Bitcoin.

    1. Punya Keyakinan Kuat (Conviction)

    Tanpa keyakinan, gampang banget tergoda buat jual saat harga turun. Padahal Bitcoin adalah aset jangka panjang yang sangat volatil. Maka dari itu, penting banget buat benar-benar memahami apa itu Bitcoin, kenapa ia diciptakan, dan bagaimana potensinya di masa depan. Keyakinan yang solid akan bantu kamu tetap tenang saat market goyang.

    2. Jangan Fokus ke Hasil Cepat

    Kalau kamu menabung Bitcoin, berarti kamu main di jangka panjang. Jangan terjebak mindset pengin cepat cuan. Bisa jadi hasilnya enggak kelihatan dalam waktu dekat, tapi justru besar di beberapa tahun ke depan. Hindari godaan untuk “lompat-lompat” ke aset lain hanya karena merasa nggak ada progres. Pegang prinsip: sabar itu cuan.

    3. Konsisten Lebih Penting dari Timing

    Menjadi konsisten lebih susah dari kelihatannya. Tapi ini salah satu kunci utama keberhasilan dalam strategi menabung Bitcoin. Banyak platform crypto sekarang sudah menyediakan fitur DCA (Dollar Cost Averaging) otomatis, jadi kamu bisa nabung secara berkala tanpa harus mikir timing terbaik. Fokus ke kebiasaan, bukan harga.

    4. Perbesar Income, Jangan All-In

    Bitcoin tetaplah aset berisiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk menabung rutin, pastikan kamu punya penghasilan yang cukup dan dana darurat minimal 6-12 bulan. Jangan sampai kamu “all-in” dan malah panik saat butuh dana cepat. Mindset yang benar adalah: Bitcoin itu pelengkap, bukan segalanya.

    Menabung Bitcoin itu bukan sprint, tapi maraton. Jadi sebelum terjun, pastikan kamu punya mental yang tahan banting dan strategi yang realistis. Siapkan mindset dengan matang, lalu biarkan waktu bekerja untukmu.

    Mulai dari kecil, mulai dari sekarang. Yang penting konsisten.

    Kalau kamu mau belajar lebih lanjut soal strategi DCA dan cara menabung Bitcoin dengan aman, cek juga artikel lainnya di Dewata Solutions.

  • Bitcoin Itu Bukan Penipuan, Ini Alasannya

    Bitcoin Itu Bukan Penipuan, Ini Alasannya

    Pernah dengar kata Bitcoin? Ada yang bilang itu uang ajaib, ada juga yang curiga itu penipuan. Tapi sebenarnya… Bitcoin itu bukan scam! Yuk kita bahas pelan-pelan, pakai bahasa yang gampang!

    🧩 Apa Itu Bitcoin?

    Bayangin kamu punya uang digital yang nggak bisa dipegang, tapi bisa dikirim ke siapa aja lewat internet. Nah, itu dia Bitcoin! Diciptakan tahun 2009 oleh orang misterius bernama Satoshi Nakamoto.

    Tapi karena bentuknya digital dan nggak ada kantor pusat, banyak yang bingung dan curiga. Padahal justru itu kekuatannya.

    🚫 Kenapa Bitcoin Bukan Penipuan?

    1. Nggak Ada Bos Besar

    Bitcoin itu kayak permainan tim yang semua orang bisa ikut. Nggak ada satu orang pun yang ngatur atau pegang kendali. Nggak kayak penipuan Ponzi yang butuh orang baru biar yang lama bisa untung.

    2. Semuanya Terbuka

    Semua kode dan transaksi Bitcoin bisa dicek oleh siapa aja. Bayangin kamu bisa buka buku kas seluruh dunia secara online. Kalau penipuan, pasti datanya disembunyikan, kan?

    3. Nggak Janji Untung

    Bitcoin nggak pernah janji kamu bakal kaya. Harganya naik-turun tergantung berapa banyak orang yang mau beli atau jual. Kalau ada yang bilang, “Pasti untung!”, itu baru perlu dicurigai.

    🔐 Bitcoin Aman Karena Teknologi Canggih

    Bitcoin dijaga oleh rumus matematika yang super kuat. Gampangnya:

    ✍️ Ada Tanda Tangan Digital

    Setiap transaksi punya “tanda tangan rahasia”. Cuma pemilik Bitcoin yang bisa tanda tangan ini. Orang lain bisa lihat, tapi nggak bisa meniru atau memalsukan.

    ⛓ Ada Buku Catatan Raksasa (Blockchain)

    Semua transaksi dicatat di satu buku digital bernama blockchain. Isinya bisa dilihat semua orang, dan nggak bisa dihapus atau diganti. Jadi nggak bisa curang.

    🧠 Ada Penjaga yang Kerja Keras (Proof of Work)

    Sebelum transaksi dicatat, komputer-komputer di seluruh dunia harus selesaikan teka-teki matematika. Kalau berhasil, transaksi masuk ke blockchain. Jadi, semua transaksi valid karena disaring dulu.

    💸 Jumlah Bitcoin Terbatas, Anti-Inflasi

    Berbeda dari uang kertas yang bisa dicetak terus oleh bank, Bitcoin cuma ada 21 juta. Jadi makin langka, makin berharga.

    Setiap 4 tahun, hadiah untuk penambang Bitcoin juga dibagi dua. Ini namanya halving. Tujuannya biar nggak kebanyakan Bitcoin beredar.

    🌍 Diakui Banyak Negara dan Perusahaan

    Bitcoin udah dipakai dan diakui secara resmi di berbagai tempat:

    • Tesla pernah terima Bitcoin buat beli mobil
    • El Salvador menjadikannya uang resmi
    • Negara seperti Jepang, Jerman, dan AS mengatur Bitcoin sebagai aset digital legal

    Kalau itu scam, mana mungkin negara sampai ikut pakai?

    🎓 Kesimpulannya: Bitcoin Bukan Scam!

    Bitcoin bukan penipuan, karena:

    ✅ Tidak dikendalikan satu pihak
    ✅ Menggunakan matematika dan kriptografi yang aman
    ✅ Semua transaksi transparan dan bisa dicek
    ✅ Sudah diakui di seluruh dunia
    ✅ Tidak menjanjikan keuntungan palsu

    Scam biasanya jalan karena orang nggak ngerti. Bitcoin justru ngajak semua orang buat ngerti dan terlibat.